Urghh! Fira kesal, Sweet Seventeen ini harus ia jalani di kampong, daerah Bogor. “Fir … Fira!” panggil Alya, teman sebangku Fira, “Ada apa, Ya? Lo bukannya dijemput sama Romy barusan?” kata Fira sambil mencari-cari Romy, “Iya … dia lagi nungguin gue di taman sono … gue mau nanya bentar sama lo …” kata Alya setengah ngos-ngosan, “Enak ya … lo udah punya pacar … fiuhh …” kata Fira, mendengus, “Jangan lebay gitu, deh Fir …! O iya … gue mau nanya, Sweet Seventeen lo rayain dimana, Fir?” Tanya Alya, gadis berambut panjang itu kembali mendengus, “Gak tau … Ya, entar deh … gue SMS lo … udah sono … pulang … Romy udah nunggu!” kata Fira, dengan putus asa.
“Mom … kenapa mesti di kampung Nenek sih? Kenapa gak ke Raising Party, gedung keren itu!” Fira sewot, jelas, dia anak orang kaya, tapi … Sweet Seventeen kali ini malah harus ke kampung … “Kamu akan mengerti nanti … lebih baik ganti bajumu dan makan!” kata Mama sambil menyeruput sup. Setelah beberapa menit, terdengar getar suara lagu I Gotta Feeling – BEP, tandanya, SMS masuk.
“Fir … gmn sama rencana sweet seventeen lo?”
“Lo kepo ya … hihi … rahasia dong!”
“Gue ini udah kelas duabelas … masih mesti ke kampung gitu ya?!” Fira langsung sewot, “Udah ah … gue chattingan aja!”
Jam 14.30 , ia selesai chatting bareng temen-temenya dari luar negeri, ada Jung Leum Hyi, Betty La Nea, dan Agatha Christie Dalina.
Udah sore ya ..” kata Fira, sambil menatap langit … tiba-tiba ia merasa awan itu terbentuk seperti wajah laki-laki, “Eee … cowok?” kata Fira, lalu mengambil buku sketsanya dan menggambar wajah itu, baru bagian mulut, awan itu menghilang, dihembus angin, “Ah … cepet banget!” kata Fira, seketika hatinya berdegup, kencang.
TIGA HARI KEMUDIAN …
Ira …!” panggil Papa, “Kemasi barangmu, darling!” Lanjut Mama, “Iya, iya … Fira turun sekarang!” ujar Fira malas. Sweet Seventeen? Bukan! Ini mimpi buruk!. Batinnya, kesal.
DI KAMPUNG …
Ira … rumah nenek tidak cukup satu orang, kamu sudah kami sewakan rumah, bayarnya setiap akhir bulan, ya, sayang!” kata Mama, “Oke … tapi eit … tunggu? SETIAP? Berapa lama kita menetap disitu?!” ujar Fira lagi, “Kita pindah dulu ya … sementara, nak … apartemen kita … sebenarnya … disita …” kata Mama, “WHAT?!?! Aku gak bisa ketemu Alya, Lisyana, Jasmine, dan yang lain? Mama bercanda, kan?” kata Fira, “Mana pernah mama bicara bohong padamu, Fira!” kata Mama. Fira merasa jatuh ke lubang yang dalamnya tak terkira. PINDAH?. Batinnya.
Ini rumah sewaannya, nak! Kamu tidur disini, rumah nenek tidak jauh, hanya berjarak 10 rumah dari sini, dan … sekolahmu berada di 2 meter kebarat, setelah itu belok kanan 5 meter, kemudian belok kiri … lurruuuusssss …. Terus, kamu akan ketemu sama SMA Jye Guazou. Oke?” kata papa panjang lebar.
Siang itu, Fira langsung mendatangi sekolah barunya. “Ehm … 5 meter ya …” kata Fira, menghitung hitung, “Dan … belok kiri … setelah itu lurus terus, coba kususuri, deh!” kata Fira.
Panas banget. Batinnya. Katanya kampung, kok panas?. Batinnya lagi, sambil menutupi mata dan wajahnya.
Weh … luas banget! Tapi … ini kan gerbang sekolah? Sekolahnya mana?. Batinnya, heran, habis … SMA ini aneh … kan udah masuk gerbang sekolah … kok ngilang sekolahnya?. Eh … itu dia … masih jauh juga dari sini! Ya .. ampun … minta tolong deh gue!. Batinnya (lagi), jarak dari gerbang sekolah itu ampun … jauhnya! Kayak perjalanan dari rumah ke sekolah … jauh! Ada kali 6 meter ke sekolah … capek deh!
Ah … tenangnya …” ujar Fira, cewek berambut panjang itu emang lagi berbaring di taman sekolah. “WADOOH!” Fira terkejut, ada bola basket yang menghantam perutnya, “Adoh … bola sapa nieh?!” Fira berteriak, “Cepet ambil ini! Cepeet!” Fira gondok, perutnya rasanya seperti di blender gitu … goyang kesana kemari. “Eeeh … sorry banget yah …” kata cowok itu … “Sorry … sorry …gampang banget lo ngomong … perut gue sakit, tau!” ujar Fira, “Idiih … orang minta maaf salah … siapa nama lo?” Tanya cowok itu, “Gue Fira! Fira Adelia Praputri!” Fira mengenalkan diri sambil menjulurkan tangannya, “Gue Chiko, Jeriko Darmono Saputra!” ujar Chiko, cowok itu, akhirnya mereka berjabat tangan.
Cewek baru di kampung ini ya?” Tanya Chiko, “Iya, gue pindahan dari Jakarta, lo sendiri? Dari kecil disini?” Fira bertanya balik. Mereka memang sedang berjalan bersama menyusuri seluruh seluk-beluk sekolah Jye Guazou itu. “Iya,” kata Chiko “gue dari kecil disini. Kota ini banyak banget kenangan buat gue …” kata Chiko lagi, “perpisahan, pertemuan, semuanya deh … gua lakuin di kota kecil ini!” Chiko menjelaskan, “Curhat lo?” Tanya Fira bercanda, “Lo kan tadi nanya!” Chiko membalas kesal, “Ngomong - ngomong … anak – anak disini baek kaga sih?” Tanya Fira lagi, “Ada yang iya, ada yang enggak. Bahkan, ada yang buat genk norak gitu!” kata Chiko, “Masih jaman genk?!” Fira heran “Itumah jaman gue SD dulu!” ujar Fira lagi.
Thanks, ya!” Ujar Fira pada Chiko, “Iya … iya!” kata Chiko, “Besok gue sekolah aja deh …” kata Fira “Maksud lo?” Tanya Chiko, “Pertamanya gue males sekolah, setelah lo certain gitu … jadi rada niat dikit!” kata Fira, sambil tertawa, diikuti dengan tawa Chiko.
“Ayaaa!!!! Sweet Seventeen gue di kampung ortu gue!!! Tapi kayaknya gue pindah bentar gitu deh kesini! Jangan bilang ke siapa-siapa! Jangan nanya! Jangan kangen! :*”
Malam tiba, Fira masih menunggu balasan dari Alya, sahabat baiknya itu.
Tiba – tiba suara HP nya terdengar, itu balasan dari Alya.
“Tumben lu mau … ya udah, gue turutin kata – kata lo! Baik kan gue? Yaudah yah … besok Sweet Seventeen gue lho!”
No comments:
Post a Comment